Profil Enea Bastianini, Si “Bestia” yang Mengebrak MotoGP dan Rivalitasnya dengan Bagnaia

Profil Enea Bastianini, Si Bestia yang Mengebrak MotoGP dan Rivalitasnya dengan Bagnaia

Otoinfo – Enea Bastianini, yang dikenal dengan julukan “La Bestia” atau “The Beast,” adalah salah satu pembalap MotoGP yang paling menarik saat ini, terutama dalam persaingannya dengan Francesco Bagnaia di tim Ducati Lenovo.

Bastianini lahir pada 30 Desember 1997 di Rimini, Italia. Perjalanan karier balapnya dimulai sejak usia sangat muda, mengikuti jejak banyak pembalap lainnya yang memulai dari kejuaraan minimoto sebelum naik ke kategori yang lebih tinggi.

Debutnya di Moto3 dimulai pada tahun 2014 bersama tim Junior Team GO&FUN Moto3. Meskipun baru pertama kali berlaga di kelas ini, Bastianini menunjukkan bakat luar biasa dengan beberapa podium yang impresif.

Baca Juga:   Tarung di FIM CEV Moto2 2021, Ini Target Dimas Ekky Pratama

Puncak karier Bastianini di Moto3 datang pada tahun 2016 ketika ia finis di posisi kedua klasemen akhir. Setelah beberapa musim yang sukses di Moto3, Bastianini naik ke kelas Moto2 pada tahun 2019 bersama Italtrans Racing Team.

Pada musim 2020, Bastianini meraih gelar juara dunia Moto2 setelah serangkaian balapan yang mengesankan, membuka jalan bagi debutnya di kelas utama MotoGP.

Baca Juga:   Aksi Kepedulian Jack Miller, Lelang Helm Pribadinya Demi Bantu Korban Kebakaran di Australia

Debut Bastianini di MotoGP dimulai pada tahun 2021 bersama tim Esponsorama Racing. Meski debut di kelas utama selalu penuh tantangan, Bastianini segera menyesuaikan diri dengan motor yang lebih bertenaga dan persaingan yang lebih ketat.

Pada musim 2022, Bastianini bergabung dengan tim Gresini Racing dan mencatatkan beberapa hasil luar biasa, termasuk kemenangan pertamanya di Grand Prix Qatar.

Baca Juga:   Bos Putra Bilang AB Bendol ABRT20 Itu Racetech-nya 2 Tak, Spek Juara! Ada Apa Gerangan?

Bastianini dikenal dengan julukan “La Bestia” karena gaya balapnya yang agresif dan penuh determinasi. Ia mempunyai kemampuan menyalip yang luar biasa dan teknik balapnya yang halus namun agresif memungkinkan dia untuk melakukan manuver-menavuer menantang dengan presisi tinggi.

Selain itu, kemampuannya dalam mengelola ban selama balapan sering kali membuatnya tampil kuat di lap-lap akhir saat banyak pembalap lain mulai kehilangan performa.