Utech Iridium Spark UMA Racing: Pembakaran Lebih Sempurna, Fitriansyah Kete Raih Podium Juara (MP1) di Grand Final MP!

Busi UMA Racing Laser Iridium Tipikal Busi Dingin

OtoInfo.Id-Terungkap salah satu rahasia performa spesial Fitriansyah Kete di Grand Final MotorPrix Surabaya (17-18/11) lalu. Rider yang membela tim Astra Honda Racing Team (ART) Yogyakarta itu raih double podium di kelas MP1 (150 cc) dan MP2 (125 cc). Pada kelas MP1 yang notabene kelas paling bergengsi, Kete-sapaan akrabnya-rebut podium juara, sedangkan di MP2 (125 cc) raih podium kedua. Wow!

Fitriansyah Kete, Raih Double Podium di GBT Surabaya dengan Busi UMA Racingf

Adalah busi Utech Iridum Spark UMA Racing jadi salah satu rahasia sukses Kete bersama Sonic 150R (MP1) dan Blade 125Fi (MP2) korekan Haris Shakti Wibowo tenar dengan nama Mlethiz MBKW2.“Proses pembakaran jadi lebih sempurna dengan teknologi terbaru yakni dengan 3 side electrode. Efeknya titik api yang fokus, beda dengan busi yang hanya memiliki 1 side electrode, terkadang titik api bisa loncat.  Akibat jika titik api loncat menyebabkan pembakaran pada mesin motor tidak sempurna. Kelebihan lain yakni tergolong busi bertipikal dingin untuk bisa menstabilkan panas mesin,”ungkap Mlethiz tentang busi UMA Racing ‘Laser Iridium’ AB9R yang notabene secara teknologi memang dirancang untuk balap.

kelebihan dari Busi UMA Racing ‘Laser Iridium’. bisa konsistenkan panas mesin

Pastinya, panas mesin yang stabil terkait dengan durabilitas alias daya tahan“Ketahanan inilah yang sebenarnya dibutuhkan buat mesin motor balap. Hingga meski kuda besi tadi dipacu dengan kecepatan tinggi, mesinya tidak mengalami panas yang berlebihan (over head). Tapi lebih stabil dan bisa bertahan hingga berakhirnya putaran lap dengn kecepatan maksimal,”terang Mlethiz.

Mlethiz (kiri) Bersama Team Support N1

Menariknya, tak hanya untuk balap busi UMA Racing yang juga diproduksi massal untuk harian tapi beda type yaitu AB8R. “Untuk harian panas mesin lebih bisa konsisten atau boleh dibilang adem dan juga awet. Dibilang awet lantaran mesin lebih bisa sempurna dalam hal mengoperasikan gerakan piston, dan tidak membuat pergerakan piston yang dipacu dengan kecepatan tinggi panasnya akan berlebihan. Tapi justru bisa menstabilkan panas mesin,”Dicky Wijaya dari PT.Enwan Multi Partindo selaku distributor UMA Racing di Indonesia. Sip! Wawan

 

 

 

 

 

 

 

 

Nah selidik punya selidik. Performa kuda besi Kete bisa melesat dengan kecepatan tinggi tadi, dipengaruhi beberapa factor. Menurut Mlethiz selaku mekaniknya mengatakan. Selain karena performa mesinya yang baru hasil rakitannya sendiri, pemakaian busi Uma Racing ‘Laser Iridium’ AB9R, juga ikut berperan banyak dalam hal menyempurnakan sistem pembakaran pada mesin. “Saya akui, kalau busi Uma Racing ‘Laser Iridium’AB9R yang secara teknologi memang dirancang untuk balap. Bisa membuat system pembakaran pada mesin sangat sempurna. Dengan teknologi terbaru yang memiliki 3 side electrode, ternyata mampu memberikan titik api yang focus. Beda dengan busi yang hanya memiliki 1 side electrode, terkadang titik api bisa loncat. Jadi jelas itu bisa menyebabkan pembakaran pada mesin motor tidak sempurna. Selain itu busi terbaru ini juga tergolong busi bertipikal dingin. Jadi lebih bisa menstabilkan panas mesin,”ungkap Mlethiz.

 

Masih menurut Mlethiz yang juga seorang engine builder handal itu memperdalam penjelasannya. Kalau busi ‘Laser Iridium’ ini bisa menghasilkan pambakaran di ruang bakar head selain sempurna juga merata. Istimewanya lagi, busi Uma Racing yang juga diproduksi masal untuk harian tapi beda type yaitu AB8R. Panas mesin lebih bisa konsisten atau boleh dibilang adem dan juga awet.

Istilah awet yang dimaksud Mlethiz tidak lain, dengan menggunakan busi Uma Racing ‘Laser Iridium’, mesin lebih bisa sempurna dalam hal mengoperasikan gerakan piston, dan tidak membuat pergerakan piston yang dipacu dengan kecepatan tinggi panasnya akan berlebihan. Tapi justru bisa menstabilkan panas mesin. “Ketahanan inilah yang sebenarnya dibutuhkan buat mesin motor balap. Hingga meski kuda besi tadi dipacu dengan kecepatan tinggi, mesinya tidak mengalami panas yang berlebihan (over head). Tapi lebih stabil dan bisa bertahan hingga berakhirnya putaran lap dengan kecepatan maksimal,”tutup Mlethiz