Otoinfo.id-Joki senior Eko Chodox Sulistyo memang terpantau absen pada dua event terakhir yakni Final IDW (Indonesia Drag Wars) dan Gadhuro di Sirkuit Lanud Gading, Wonosari, Yogyakarta beberapa waktu lalu. Padahal, dua event itu punya tensi persaingan yang tinggi. Dua event yang konsisten menjalankan seri meskipun masih dilanda pandemi. Ada apa dengan Eko Chodox?
Baca Juga : Drag Bike 2021: Kuat Menjaga Eksistensi, Tahun Depan Pastikan Tambah Amunisi
Secara khusus Eko Chodox menyampaikan alasan dan kegundahan hatinya. “Sekarang lagi di titik jenuhnya dengan drag bike. Masalahnya begini-begini saja,”ungkap joki yang sudah memulai karier sejak awal tahun 2000-an. Tanpa menyebut dengan rinci problem utama apa yang membuat dragbike menjenuhkan bagi Eko Chodox. Apakah terkait dengan regulasi seperti yang selama ini kerap diungkapkan. “Saat ini hampir tak ada bedanya antara seeded dan pemula. Motor yang dipakai sama aja, cuma beda istilah pemula dan seeded,”kata Eko Chodox dalam suatu kesempatan obrolan.
Juga soal ketegasan kategori pemula dan seeded. Ada seorang joki yang sudah kerap naik podium tapi masih juga berstatus pemula. “Seperti juga di road race, regulasi mesin untuk pemula dan seeded memang beda,”tegas Eko Chodox. Baginya, persoalan pemula dan seeded yang tidak jelas ini juga ‘merugikan’ bagi pemilik tim. Kenapa harus ada pemula dan seeded kalo toh nyaris tak ada bedanya dari sisi regulasi?
Baca Juga : Gadhuro Drag Bike Final Round Wonosari Banyak Tambahan Kelas
Apa yang menjadi kegundahan hati Eko Chodox boleh jadi dipikirkan oleh beberapa joki seeded dan pelaku aktif drag bike yang lain. Itu artinya perlu ada inovasi regulasi yang membuat gairah drag bike tetap hidup. Toh, dari sisi teknologi sudah makin bergairah dengan terus mempertajam rekor nasional yang makin fantastis. “Secara struktur organisasi di IMI Jateng tercatat di Komisis Drag Bike. Tahun depan, dari berbagai masukan-masukan yang disampaikan semoga bisa bikin drag bike tetap hidup dan bergairah,”tukas Eko Chodox. Gass Pak Eko! Wawan
