Onesixeight Motocross Indiel KMI Grasstrack Openchampionship 2021 – Catatan Mevans Sanggramawijaya : Libatkan Awak Team Motocross Kembali Mensosialisasi Sport Tourism

Otoinfo.id – PPKM dan pandemi telah berlalu, optimis berbagai element pecinta otomotif tanah air, menyambutnya dengan bahagia. Khususnya penghobi motocross dan grasstrack di Jatim, Jateng dan Jabar.

Hajatan spektakuler Onesixeight Motocross Indiel KMI Grasstrack Openchampionship 2021, diharapkan bisa menjadi tonggak kebangkitan bersama pelaku motocross, yang ingin berpartisipasi kembali menggairahkan dunia motocross.

Momen PPKM silam, dipahami bersama, cukup berdampak bagi penghobi motocross, hingga memicu terjadinya berbagai dilema.

Dari vakumnya event motocross, hengkangnya sponsor, big boss yang lempar handuk, sampai peralihan crosser ke aktifitas baru sebagai alternatif mata pencaharian.

Melalui Onesixeight Motocross Indiel KMI Grasstrack Openchampionship 2021, kami berupaya menjawab ragam dinamika motocross usai pandemi, yang mutlak segera dikalibrasi.

Contoh krusial adalah crosser-crosser yang terbentur dengan aturan limit usia, seperti crosser 65 cc, 85 cc, 125 cc dan MX2 Junior.

Padahal, ketika PPKM tidak ada, sejatinya menjadi fase pemantapan mereka, untuk persiapan naik kelas.

Baca Juga : Mevans Sanggramawijaya (Onesixeight Motocross Team): Ikut Latih Tanding di Sukoharjo dan Soft Launching Jersey Local Pride

Tapi, yang terjadi sebaliknya, setelah pengaruh terhentinya jadwal motocross.

Otomatis, makin kesini atmosfir kompetisi motocross jadi kurang obyektif, hingga menurunya quota.

Maka, di event yang resmi dan fix dihelat pada 18 – 19 Desember 2021 mendatang, kami berusaha mengakomodir aspirasi pelaku motocross, hingga mengurai benang kusut dampak pandemi.

Sebab, itu di rangkaian Onesixeight Motocross Indiel KMI Grasstrack Openchampionship 2021, akan digelar “Gala Dinner”.

Tak hanya untuk memperkenalkan ragam kuliner iconic dan lazis.

Tapi juga memberikan kesempatan kepada awak team motocross, berkomunikasi, dengan pengamat dan pakar motocrosss, serta regulatornya.

Ruang representatif ini, kami harapkan bisa mengurai, mencari solusi, memilih jalan terbaik dan mufakat bijak, sebagai persiapan menyambut musim kompetisi motocross di 2022.

Dan melalui Onesixeight Motocross Indiel KMI Grasstrack Openchampionship 2021 ini, juga menjadi momentum kembali campaign dan sosialisasi dalam rangkaian road show sport tourism.

Tarjetnya, melibatkan langsung serta mengajak, teman, kolega team-team motocross dan jajaran partner sponsor, untuk tampil mendongkrak perekonomian para pelaku UMKM masyarakat pelosok kabupaten Banyumas.

Dengan berkontribusi lewat sewa home stay, mampir di lapak kuliner, hingga sentral oleh-oleh.

Hal ini pula yang menjadi ciri khas dan trade mark, bahwasanya “Onesixeight Motocross Indiel KMI”, bukan event yang semata mengarah ke nilai komersial, tapi juga berusaha mengangkat nilai-nilai sosial.

Di kabupaten Banyumas ini, Team-team motocross juga berkesempatan, menikmati panorama destinasi 17 Curug eksotis, yang berada di kabupaten Banyumas.

Salah satunya adalah curug Nangga, berada di dusun Petahunan, desa  Pekuncen, dekat lokasi sirkuit Cikembulan, lokasi event Onesixeight Motocross Indiel KMI Grasstrack Openchampionship 2021.

Bahkan, awak team motocross, bisa langsung refreshing dengan kearifan lokal dan kultur budaya, masyarakat keturunan Ki Agglik.

Yaitu sosok pertapa yang menetap di lereng selatan hutan watu barut, asal-usul legenda terbentuknya 9 wilayah setingkat dusun, salah satunya adalah Pekuncen.

Alasan itu, untuk semua team-team motocross yang lagi on fire, saya himbau menyempatkan datang ke Banyumas, lebih awal !

Ada sedikit uraian cerita soal kabupaten Banyumas dan perjalanan hidup saya. Banyumas cukup familiar bagi saya, semasa jelang dewasa.

Baca Juga : Onesixeight Racing Team : Koleksi Burung Macaw Mevans Sanggramawijaya Isi Kekosongan Jadwal Balap

Banyak kenangan dan nostalgia, penuh kisah, kala menimba ilmu di SMA Bruderan Purwokerto.

Kokohnya pagar, yang selalu pengertian dan tak pernah berisik, saat saya memanjatnya, begitu kuat terngiang di memori saya.

Masih saja seperti dulu kala, selalu hangat menyapa setiap melewatinya, sembari terbayang kumis Guru BP, dengan titahnya.

Belum lagi akrab dan humble-nya beberapa sahabat saya, salah satunya Catur Widiarto, yang ibunya dikenal jago masak oleh warga.

Keasrian rumahnya di desa Kedondong, Sokaraja, selalu jadi pikat, di setiap melewati malam, hingga terlelap usai bercerita obsesi dan cita.

Di daerah yang masih dikelilingi alam virgin ini pula, calon Pangeran itu ditempa dan dibentuk oleh nurani dan kemandirian. TIM